Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Temperantia.

T e m p e r a n t i a Alunan piano mengiringi pujian-pujian yang kaupanjatkan pada Tuhanmu, rapalan doa-doamu tak henti terucap. Kamu berkata bahwa setelah kamu diberkati, kamu akan memberkati setiap orang yang kautemui. Kamu selalu senang ketika bertemu dengan Tuhanmu. Senyum bangga yang selalu kamu tunjukkan pada setiap orang sebab kau memiliki-Nya sebagai penciptamu. Kamu bercerita betapa senang kau mendengar sang pendeta berbicara, lalu tersenyum manis saat melihat kolektan. Dan aku mencintaimu sesederhana kamu mencintai Tuhanmu. Semoga saja doa-doaku dapat bersatu di langit bersama doa-doamu menjadi gumpalan awan yang akan menjatuhkan butiran air suci yang akan mengantarkan kita pada genangan kebahagiaan yang mungkin akan dibawa oleh sungai untuk disatukan di laut keabadian. Walaupun aku tau bahwa doa kami bergerak pada tempat yang berbeda, pada Tuhan yang berbeda. #fxdustt Hanya harapan sederhana dari seseorang yang sangat mencintai Tuhannya serta mencintai pria sederhana yan...

Castitas.

C a s t i t a s Kalian tahu bahwa cinta itu datang dari kemurnian hati, bukan dari kerumitan pikiran yang kumiliki. Kalian juga bahkan tahu kalau cinta itu tidak pernah memilih untuk jatuh, bukan? Lalu untuk apa kalian masih menyalahkan rasa yang kumiliki? Apa aku salah memiliki perasaan lebih pada manusia yang bukan merupakan ciptaan Tuhanku? Tolong jelaskan padaku, bagaimana bisa orang berkata bahwa perbedaan itu dapat menyatukan? kalau nyatanya perbedaan antara aku dan dirinya masih saja dibatasi tembok tinggi. Apakah aku yang harus berdiri di depan altar bersamanya? Ataukah ia yang harus mengucapkan kalimat syahadat? Coba kalian berpikir dalam kemurnian pikiran. Apakah semua akan lebih baik jika salah satu dari kami merelakan apa yang sudah kami percaya sejak kami dilahirkan? Apakah benar bila salah satu dari kami menyakiti banyak orang hanya karna satu orang yang kami cintai? Tentu kami akan menyakiti Tuhan kami masing masing, jadi tolong seseorang jelaskan padaku....
Kembalilah. Mungkin aku terlalu jauh menarikmu dalam segala urusanku. Hingga ketika kamu pergi, rumah yang telah kita bangun runtuh menimpa sebagian dari diriku. Aku kehilangan caraku berdiri tegak karna terlalu sering bersandar. Aku kehilangan caraku tertawa karna sumber dari segala tawa telah hilang. Aku tersungkur, kaku terbujur, hampir hancur. Puing ini masih menimpa sekujur tubuhku, termasuk akal pikirku, aku kehilangan akal sehatku sekarang.  Sungguh aku bisa saja keluar dari reruntuhan ini, tapi aku memilih berdiam. Aku diam, sampai kamu memutar haluan kemudian berlari menujuku. Kembalilah, Mari memperbaiki semuanya. Sebelum semuanya terlambat, lalu ada yang datang menghambat. Jangan lagi berpaling, hanya membuatku pening. -Fxdustt Maaf, kali ini aku sedang tidak sependapat dengan Tuhan. Kita tidak hanya di pertemukan lalu di pisahkan dengan kejam, bukan? Maka, berbaliklah selagi aku masih bisa melihat punggungmu.