Peran Koperasi
Peranan Koperasi
Adanya berbagai jenis koperasi tentu memiliki peran penting bagi setiap lembaga dan anggota yang menjalankannya untuk membangun perekonomian.Berikut adalah peranan koperasi, yaitu :
1. Koperasi dapat menguranggi tingkat pengangguran.
2. Koperasi dapat mengembangkan kegiatan usaha masyarakat.
Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi (UKMK) yang biasanya dianggap tidak
penting dan disepelekan justru sebagian besar dapat eksis dalam
menghadapi badai krisis. Dengan demikian sektor yang disebut belakangan
(UKMK) dapat menjadi pengganjal untuk tidak terjadinya kebangkrutan
perekonomian, bahkan sebaliknya dapat diharapkan sebagai motor penggerak
roda perekonomian nasional untuk keluar dari krisis. Sebagai contoh
banyak peluang pasar yang semula tertutup sekarang menjadi terbuka.
Contohnya, akibat mahalnya harga obat, yang sebagian besar masih harus
diimpor, produsen jamu (ada yang membentuk koperasi) mendapat kesempatan
memperlebar pasarnya dari pangsa yang lebih menyerupai “ceruk pasar”
menuju kepada pasar yang lebih bermakna.
Seandainya globalisasi benar-benar terwujud sesuai dengan skenario
terjadinya pasar bebas dan persaingan bebas, maka bukan berarti tamatlah
riwayatnya koperasi. Peluang koperasi untuk tetap berperan dalam
percaturan perekonomian nasional dan internasional terbuka lebar asal
koperasi dapat berbenah diri menjadi salah satu pelaku ekonomi (badan
usaha) yang kompetitif dibandingkan pelaku ekonomi lainnya.
Tantangan untuk pengembangan masa depan memang relatif berat, karena
kalau tidak dilakukan pemberdayaan dalam koperasi dapat tergusur dalam
percaturan persaingan yang makin lama makin intens dan mengglobal. Kalu
kita lihat ciri-ciri globalisasi dimana pergerakan barang, modal dan
uang demikian bebas dan perlakuan terhadap pelaku ekonomi sendiri dan
asing (luar negeri) sama, maka tidak ada alasan bagi suatu negara untuk
“meninabobokan” para pelaku ekonomi (termasuk koperasi) yang tidak
efisien dan kompetitif.
Berikut ini adalah ringkas langkah koperasi untuk menghadapi era-globalisasi:
- Dalam menjalankan usahanya, pengurus koperasi harus mampu mengidentifikasi kebutuhan kolektif anggotanya dan memenuhi kebutuhan tersebut. Proses untuk menemukan kebutuhan kolektif anggota sifatnya kondisional dan lokal spesifik. Dengan mempertimbangkan aspirasi anggota-anggotanya, sangat dimungkinkan kebutuhan kolektif setiap koperasi berbeda-beda.
- Adanya efektifitas biaya transaksi antara koperasi dengan anggotanya sehingga biaya tersebut lebih kecil jika dibandingkan biaya transaksi yang dibebankan oleh lembaga non-koperasi.
- Kesungguhan kerja pengurus dan karyawan dalam mengelola koperasi. Disamping kerja keras, figur pengurus koperasi hendaknya dipilih orang yang amanah, jujur serta transparan.
- Pemahaman pengurus dan anggota akan jati diri koperasi, pengertian koperasi, nilai-nilai koperasi dan prinsip-prinsip gerakan koperasi harus dijadikan point penting karena hal itu yang mendasari segala aktifitas koperasi. Aparatur pemerintah terutama departemen yang membidangi masalah koperasi perlu pula untuk memahami secara utuh dan mendalam mengenai perkoperasian.
- Kegiatan koperasi bersinergi dengan aktifitas usaha anggotanya.
- Koperasi produksi harus merubah strategi kegiatannya dengan mereorganisasi kembali supaya kompatibel dengan tantangan yang dihadapi.
- Membagi koperasi menurut beberapa sektor :
- Koperasi produsen atau koperasi yang bergerak di bidang produksi,
- Koperasi konsumen atau koperasi konsumsi, dan
- Koperasi kredit dan jasa keuangan.
Dengan demikian, koperasi pun
mampu setidaknya menghadapi era globalisasi saat ini, bukan malah
terseret arus globalisasi yang berdampak koperasi akan tenggelam. Mari
kita benahi koperasi sejak dini, karena koperasi di Indonesia juga
merupakan jati diri bangsa.
Jurnal tentang Koperasi di era gloalisasi.
Salah satu jurnal yang membahas tentang masalah koperasi di era globlasisasi ini adalah jurnal yang berjudul Membangun Koperasi Pertanian Berbasis Anggota di Era Globalisasi yang ditulis oleh Susi Widjajani dan Siti Noor Hidayati.
Pada jurnal tersebut menjelaskan bahwa koperasi yang harus dibenahi terlebih dahulu adalah koperasi unit desa yang biasanya petani gunakan untuk kebutuhan tani yang hasilnya untuk masyarakat luas. KUD dalam prakteknya dibatasi pada kegiatan yang tingkat keuntungannya (nilai tambah) terendah yaitu pada sub-sistem usaha tani. Sementara kegiatan ekonomi yang memiliki tingkat keuntungan relatif tinggi yakni pada sub-sistem agribisnis hilir (pengolahan dan perdagangan) diserahkan pada pengusaha atau pemerintah.
Posisi KUD yang demikian jelas hanya perpanjangan tangan dari penguasa dan pengusahasehinggamanfaat ekonomi darieconomies of scaledapat dinikmati oleh penguasa dan pengusaha bukan kepada petani. Itulah sebabnya , mengapa pembangunan pertanian yang sudah berlangsung lebih 30 tahun, kehidupan ekonomi petani tidak banyak berubah,bahkan sebagian masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Dalam kenyataannya koperasi pertanian (Koperasi Unit Desa) justru dibentuk dari atas (Pemerintah/Pengusaha) dan tidak berpihak pada masyarakat. Koperasi pertanian kehilangan jati dirinya karena adanya dampak globalisasi yang terus berkelanjutan. Dalam kondisi yang demikian, perlu adanya kebijakan makro yang kondusif bagi pengembangan koperasi pertanian di Indonesia, adanya pemahaman yang utuh terhadap kondisi perkoperasian di Indonesia, perlu adanya langkah-langkah strategis memperbaiki kondisi internal koperasi, dan perlu adanya jaringan komunikasi serta kerja sama dengan pihak-pihak terkait.
Pengembangan koperasi pertanian merupakan langkah panjang yang membutuhkan proses penyadaran dan pembelajaran yang terus menerus. Dari semua usaha yang perlu dilakukan dalam mengembangkan koperasi berbasis pada anggota, kesadaran anggota dan masyarakat akan menjadi faktor paling menentukan. Oleh sebab itu pendidikan koperasi dalam kerangka pendidikan masyarakat tentang demokrasi, keterbukaan, kebersamaan dan penghormatan terhadap perbedaan merupakan fondasi yang menjadi prasyarat keberadaan koperasi.
Sumber:
Jurnal Membangun Koperasi Pertanian Berbasis Anggota di Era Globalisasi
Komentar